Ads Top

Hati-hati, 3 Jenis Penipuan Ini Kerap Mengintai Pinjaman Online

Di mana ada fasilitas terkait dengan transaksi keuangan, di situ juga biasanya banyak jenis penipuan yang siap mengintai. Tak terkecuali untuk yang berbasis digital seperti fintech pinjam uang online. Dibanding produk perbankan seperti kartu kredit, aplikasi fintech pinjaman online justru lebih rentan dijadikan sasaran empuk oleh oknum-oknum tidak bertanggung jawab untuk melakukan penipuan.



Selain ada celah dalam teknologinya sendiri, nasabah pinjaman online juga biasanya kurang cermat dan hati-hati menggunakan fintech karena kondisi yang mendesak dan butuh uang cepat. Apabila kamu saat ini sedang berniat untuk pinjam uang ke fintech pinjam online, selain perlu cermat memilih fintech, kamu juga sebaiknya hati-hati dengan 4 jenis modus penipuan berikut ini.

Permintaan transfer sejumlah uang muka sebagai syarat pencairan


Saking butuhnya, sebagian orang jarang yang berpikir panjang ketika menemui modus penipuan jenis ini. Pelaku biasanya akan mengiming-imingi pencairan cepat apabila calon nasabah secepatnya mentransfer sejumlah dana ke rekening pribadi pelaku. Entah untuk alasan “pelicin” ataupun uang muka pinjaman. Yang perlu diingat ketika menemui modus ini, kamu adalah pihak yang butuh pinjaman dana. Apabila kamu memiliki uang untuk transfer sejumlah uang muka, maka logikanya, untuk apa kamu pinjam? Lebih baik uang tersebut digunakan untuk tambahan keperluan dibanding sebagai uang muka pinjaman.

Tawaran jasa pelunasan atau penghapusan data pinjaman online


Maraknya kasus orang-orang yang terbelit utang pinjaman online memberi “peluang” lain bagi pelaku penipuan untuk menawarkan jasa palsu berupa “pelunasan” dengan cara menghapus data pinjaman online dari orang yang bersangkutan. Sama dengan kondisi butuh uang, kondisi terbelit utang juga sama besar potensinya untuk membuat orang tidak bisa berpikir panjang dan jernih. Dari sinilah modus penipuan jenis ini bisa berhasil.

Pelaku biasanya akan menawarkan jasa penghapusan data dengan dalih sebagai ahli IT atau orang yang bekerja di perusahaan fintech tempat nasabah tersebut berutang. Untuk jasa penghapusan data, pelaku akan meminta bayaran beberapa persen dari total pinjaman nasabah. Misalnya, nasabah yang minta dihapus data pinjamannya berutang sebesar Rp 2 juta, pelaku meminta biaya imbal jasa sebesar 10% dari Rp 2 juta, yaitu sekitar Rp 200 ribu. Makin besar jumlah pinjaman, akan makin besar juga biaya imbalan yang diminta pelaku. Apakah benar pelaku bisa menghapus data pinjaman online? Tentunya nggak. Karena setiap fintech pasti punya teknologi keamanannya sendiri terkait data-data nasabahnya.

Modus phising mengatasnamakan Customer Service Pinjaman Online


Salah satu celah teknologi yang kerap dimanfaatkan penipu untuk menguras habis limit pinjaman di aplikasi pinjaman online seorang nasabah adalah username, password, dan OTP. Hampir semua fintech pinjam online saat ini menggunakan platform aplikasi yang perlu didownload dari Google Play Store atau App Store. Password dan OTP adalah metode keamanan yang umum diterapkan fintech ketika nasabah akan melakukan transaksi atau mengajukan pinjaman.

Dalam modus ini, pelaku biasanya sudah memiliki data-data pribadi nasabah, mulai dari nomor telepon, username, password, hingga OTP. OTP adalah serangkaian kode yang dikirim ke nomor hp nasabah yang terdaftar untuk verifikasi atau meloloskan transaksi di aplikasi fintech. Pelaku akan melakukan sebuah transaksi dengan login ke akun nasabah dan kemudian menelepon nasabah dan mengaku-ngaku sebagai Customer Service atau bahkan pihak bank. Tujuannya adalah untuk meminta kode OTP yang terkirim otomatis lewat sms ke hp nasabah. Nggak jarang, pelaku juga menggunakan nomor telepon yang mirip dengan nomor CS fintech atau bank untuk mengelabui nasabah sehingga bisa percaya dan memberikan nomor OTP.

Dari modus ini yang bisa dipelajari adalah, penting untuk memilih fintech yang punya jaminan keamanan data dan jaminan tidak memperjualbelikan atau menyewakan data-data nasabah ke pihak ketiga. Kalau tidak ada jaminan tersebut, dikhawatirkan, modus penipuan jenis ini akan sering terjadi.

Tawaran kenaikan atau pencairan limit pinjaman


Modus penipuan jenis ini kerap terjadi pada nasabah fintech yang memberikan limit kredit nontunai seperti Kredivo. Limit kredit yang diberikan Kredivo, maksimal bisa mencapai hingga Rp 30 juta, namun dalam bentuk nontunai. Limit kredit ini bisa digunakan oleh nasabah atau penggunanya untuk belanja cicilan aneka barang di merchant online rekanan Kredivo (Shopee, Tokopedia, Lazada, Bukalapak, dsb) dan bisa juga untuk dicairkan jadi pinjaman tunai. Sebelum ada fitur pinjaman tunai di aplikasi Kredivo, cukup banyak tawaran yang beredar di internet atau media sosial untuk mencairkan limit di akun Kredivo jadi uang tunai. Entah bagaimana caranya, yang pasti hal tersebut ilegal.

Saat ini, Kredivo sendiri sudah resmi merilis fitur pinjaman mini dan pinjaman jumbo. Jadi, nasabah yang berniat meminjam uang, bisa langsung mencairkan limit yang dimilikinya lewat fitur resmi yang tersedia. Untuk pinjaman mini, jumlah pinjaman yang bisa diajukan minimal adalah Rp 500 ribu, dengan tenor maksimal 30 hari untuk pengembalian. Sementara untuk pinjaman jumbo, jumlah pinjaman yang bisa diajukan minimal adalah Rp 1 juta, dengan pilihan tenor angsuran 3 bulan atau 6 bulan. Suku bunga yang diberikan Kredivo untuk pinjaman hanya 2,95% per bulan. Dan kalau dibandingkan dengan fintech lain yang kasih suku bunga pinjaman 1% per hari atau bisa mencapai 30% per bulan, suku bunga Kredivo adalah yang paling rendah.


Apabila tertarik untuk meminjam uang di Kredivo, kamu perlu daftar dan punya akun Kredivo lebih dulu. Caranya adalah dengan daftar lewat aplikasi Kredivo. Download aplikasinya di Google Play Store atau App Store. Pastikan juga kamu memenuhi tiga syarat berikut ini: sudah berusia minimum 18 tahun, berpenghasilan tetap per bulannya minimal Rp 3 juta, dan berdomisili di wilayah Jabodetabek, Bandung, Surabaya, Medan, Palembang, Semarang, Bali, Yogyakarta, Solo, Malang, Makassar, Cirebon, atau Sukabumi.


1 comment :

  1. iya nih, sekarang makin banyak fintech yang menawarkan pinjaman uang untuk berbagai macam keperluan. Aku sendiri sebenarnya masih ragu ini beneran apa nggak dan masih percaya dengan sistem yang lebih konvensional. Tapi kadang penasaran juga sih karena kayaknya lebih mudah pengajuan pnjamannya dibanding cara konvensional.

    ReplyDelete

fajarsiagian. Powered by Blogger.